Pelakor Dan Poliamor-3

Pada tahun 2009, tak sampai seminggu setelah pernikahan Prince William dengan Kate Middleton, TIME menurunkan laporan utama dengan judul yang sangat provokatif: “Who Needs Marriage?” Di dalamnya terurai tinjauan terbaru tentang lembaga keluarga di Amerika Serikat. Buat ukuran Asia, terutama Indonesia, sebagian isinya mencengangkan dan mengguncang iman.

39% dari rakyat Amerika menduga lembaga perkawinan memasuki masa usang. Namun, suprisingly, 78% tetap kepingin menikah meski tahu 50% dari jumlah itu bakal bubar di tengah jalan. Perkawinan masih merupakan lambang teragung untuk cinta, belum ada yang bisa menggantikan. Industri perkawinan membukukan pemasukan sebesar lebih dari $40 milyar setiap tahun. Jumlah yang besar dan berada di top 30 industri Amerika dengan Finance di urutan pertama, dan Health di urutan kedua.

64% dari mereka yang mengenyam bangku kuliah menikah, berdampingan dengan 48% dari mereka yang tidak pernah berkuliah. Di sisi ini perkawinan masih dianggap bentuk terbaik civilization. Berikutnya, 76% dari keluarga Amerika Serikat tetap berpendapat bahwa keluarga adalah aset utama. Dan mereka merasa puas. Satu hal penting dan fundamental, yang mendukung keyakinan tersebut, adalah temuan yang menunjukkan pendapatan individual mereka yang berkeluarga 24% lebih tinggi daripada individu yang tidak berkeluarga. 74% anak-anak yang lahir dan tumbuh di keluarga utuh masuk ke jenjang pendidikan S1.

Ditinjau dari berbagai aspek dan dengan pendekatan apapun, hasilnya sama: berkeluarga jauh lebih baik daripada membujang. Keluarga adalah fondasi utama dan satu-satunya dari sebuah bangsa dan negara. Persoalannya, kenapa 39% berpendapat bahwa lembaga perkawinan sedang memasuki masa kepunahan? Apakah “menikah” berbeda dengan “berkeluarga”?

Kelihatannya begitu. Pew Research melansir data bahwa perkawinan ideal menurut rakyat Trump adalah kesetaraan dalam mencari nafkah dan mengurus anak. 68% dari mereka yang berkeluarga sama-sama bekerja di kantor atau di luar rumah. Mereka bersepakat saling bagi tugas dalam mengurus rumah dan anggotanya.

George Barness report melansir temuan lain: 30% perkawinan orang Yahudi di Amerika berakhir dengan perceraian, 27% terjadi pada keluarga Kristen, 22% pada keluarga Kristen sesekali ke gereja, 21% di keluarga atheist. Jika angka-angka ini disilangkan dengan persentase warga yang memiliki pendidikan tinggi (S2 dan S3), atheism layak ditabalkan sebagai ideal ground bagi perkawinan dan berkehidupan lebih baik.

Pertanyaan berikut: berapa persen atheist yang membujang? 51%, Kristen 19%. Ini menuntun kita untuk menyimpulkan bahwa para atheist menimbang banyak hal dan berulangkali sebelum memutuskan kawin. Pertimbangan berlapis memandu mereka masuk ke dalam pernikahan berkualitas.

Hal ini diperkuat oleh laporan Survey of Income and Program Participation (SIPP) pada tahun 2001 dan Pew Research pada tahun 2009. Angka perceraian lebih tinggi ditemukan pada mereka yang berpendidikan S1 ke bawah, 62%, berbanding 20% berpendidikan S2, dan 16% berpendidikan S3. Kita harus mengujinya di Indonesia jika data BPS untuk topik serupa sudah tersedia.

Perkawinan ternyata TIDAK sedang memasuki masa usang. Tingginya angka perceraian disebabkan ketidaksiapan para pelaku memasuki lembaga perkawinan. Pendidikan adalah syarat utama. Keterbukaan informasi menjadi syarat di urutan berikutnya. Serentak dengan itu, mari abaikan ancaman neraka dan janji surga untuk duduk di urutan keberapapun dari syarat keberhasilan sebuah keluarga.

Kita perlu menyajikan sebanyak-banyaknya pengalaman dan problematika berkeluarga. Sinema, sastra, serenada, dan berbagai karya budaya lain, sekali lagi, telah dengan gemilang mengabarkan dan berbagi kepada kita tentang hidup manusia serta perubahan yang berlangsung di dalamnya.

Kita tidak bisa mengabaikan bahwa dalam sebuah nuclear family (keluarga yang tinggal terpisah dari orangtua maupun sanak famili) terhimpun milyaran persoalan dan ketegangan. Sistem ekonomi kapitalistik menghadirkan instabilitas pendapatan, dalam arti: tanpa semangat berkompetisi, Anda berkemungkinan jadi penganggur di bulan depan. Olehnya, nyaris tak ada suami atau istri tiba di rumah sebelum pk 7 malam dan keluar di atas pk 7 pagi.

Itu artinya, sekitar 14 jam dari hidup masing-masing setiap hari dihabiskan secara terpisah. 8-10 jam darinya dijalani bersama boss Anda yang tampan, bersama sekretaris Anda yang berpakaian ketat, bersama rekan sekerja yang dengannya Anda bahu-membahu mengerjakan sebuah proyek, dan dengan puluhan momen lain yang dalam hitungan detik berkemungkinan untuk bergulir dan bersulihrupa menjadi momen romantik. Apalagi Anda bagian dari keluarga mammalia, terbukti memang mata keranjang.

Kita masih harus uji alasan Anda berpakain lebih menarik hari ini. Tapi, entah seberapa kecil pun itu, di dalamnya ada persentase tertentu yang menunjukkan keinginan Anda untuk dikagumi dan ‘diminati’ lawan jenis. Sila para lelaki halangi kemungkinan tersebut dari istrinya, mewajibkan mereka mengenakan penutup habis-habisan.

Begonya, besok para lelaki berpakaian lebih baik, berpenampilan lebih menarik. Sekian persen darinya merupakan pernyatan dari keinginan untuk dikagumi dan diminati lawan jenis. Fahira kejang-kejang dibuatnya. Ribuan persilangan waktu melahirkan tatapan tak sengaja, yang kemudian berlanjut dengan tolehan, lirikan, lalu ketermenungan.

Tak satu upaya bisa Anda buat untuk mengeliminasi kemungkinan itu. Bahkan sopir taksi online berhijab berkirim sandek ke salah seorang penumpangnya berselang 3 hari. Anda norak dan tak berpendidikan kalau dengan mudah menuding perempuan bersuami ini sebagai perempuan gatal. Itu baru pertama kali dia lakukan dari sekian ratus perjalanan bersama penumpang-penumpangnya. Anda harus menimbang apa yang disebut chemistry, reaksi kimiawi yang lahir dari perpaduan aroma tubuh, juga vibrasi di antara keduanya. Semua berlangsung di luar kesadaran, mencekik paru Anda berhari-hari sesudah pertemuan.

Bu Dendi lalu mencampakkan puluhan lembar uang seratusan ribu ke tubuh seorang gadis dan menuduhnya sebagai pelakor. Ia tak tahu bahwa dalam apa yang berlangsung di antara gadis itu dengan suaminya tak terkandung sedikit pun gairah penaklukkan, perebutan, perampokan hak-milik seseorang. Bu Dendi bahkan tak ada dalam apa yang mereka alami dan rasakan. Itu dunia sendiri, semesta khusus, realitas yang lahir dan mengambil tempat berbeda dari realitas harian.

Sadar akan semaraknya momen-momen majikal di luar panggung utama, ratusan hingga ribuan orang di Eropa Barat dan di Amerika tengah mencoba apa yang disebut laku polyamorous, relasi dengan lebih dari 1 asmara. Itu sebuah rumah yang diisi lebih dari 2 manusia, 3 bahkan hingga 5 orang. Di antara mereka satu sama lain berjalin asmara yang tak bisa dikendalikan sehingga, demi ketertiban dan keberlangsungan asmara sebelumnya, semua peserta masuk ke dalam.

Teman saya di London menjalani laku polyamorous bersama 6 orang. Semula dia berpacaran dengan 1 orang. Beberapa tahun kemudian dia terhujam panah asmara lelaki lain. Sebagai perempuan yang berkomitmen teguh, ia melaporkan suasana hati tersebut kepada pacarnya. Mereka menimbang kelahiran praktik polyamorous. Lelaki di luar layar kemudian masuk ke panggung. Belakangan pacar pertamanya jatuh hati kepada perempuan lain. Setelah melalui percakapan bertiga dan kemudian berempat, seorang perempuan luar masuk menjadi anggota. Demikian hingga sekarang beranggotakan 7 orang. Apakah konsep pernikahan masih berlaku buat mereka?

Ya! Jika undang-undang memungkinkannya, mereka tertarik menikah di sebuah gereja. Busyet! Kalau itu terjadi, hukum dan perundang-undangan memasuki perubahan terliar. Konsep suami-istri rubuh, di sana ada sekian lelaki dan sekian perempuan.

Bedanya, teman-teman saya itu belum berani punya anak. Terlalu berat tantangan yang bakal dihadapi sang anak ketika harus menjelaskan keluarga uniknya ke teman-teman sekolah, guru, dan masyarakat. Itu memancing perisakan, perundungan, yang belum tentu kuat dijalani.

Tidak ada pengkhianatan. Tidak ada sakit hati. Tak ada yang terluka. Semua berlangsung secara menakjubkan, kata Derek, teman saya. Tapi itu berpotensi tumbuh menjadi sebuah sekte, tuding saya. Derek melongo.

Dua bulan lalu, Anne, salah seorang anggotanya, meninggalkan mereka. Ia pergi mengikuti seorang lelaki yang dikenalnya dalam penerbangan Paris ke London. Mereka jatuh cinta. Lelaki ‘baru’ ini tak bersedia masuk ke dalam ‘cult’ asuhan Derek, sebaliknya meminta Anne meninggalkan mereka untuk bersamanya membangun keluarga ‘normal’.

Jumlah polyamorist tumbuh pesat. Survey tentang sexual revolution yang dilakukan Terry Conley dari University of Michigan pada tahun 2015 mencatat 4.000 dari respondennya adalah polyamorist. Itu mengejutkan. Kenaikannya diduga berkisar di angka 50% – 60% per tahun. Sebagai statistikawan saya tahu, ketika angkanya sudah mencapai persentase tertentu dari warga seantero negeri, ia bakal tumbuh secara eksponensial untuk kurun waktu terbilang.

Kebaruan demi kebaruan pegari. Tapi saya tetap mengagungkan laku monogamous. Statistik menunjukkan bahwa dalam keluarga monogamous, apapun agamanya, bertuhan atau tidak, anak-anak mereka mencapai jenjang pendidikan lebih tinggi, karir lebih baik, dan kemanusiaan lebih agung.

Pendidikan menjadi hal paling penting dalam cita-cita keluarga kami. Seperti Cooper di film Interstellar, saya ingin agar dari keturunan saya pegari ilmu pengetahuan yang mengantar manusia bernavigasi di ruang 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11 hingga 12 dimensi. Di level itu galaksi tetangga cuma berjarak Jakarta-Bogor dari Bumi, atau mungkin cuma di sebelah rumah. Kepunahan manusia dan mahluk hidup tidak terjadi. Kita membangun koloni baru di planet lain, di galaksi lain, dan di alam semesta lain. Data menunjukkan, peluang ke arah sana jauh lebih besar tumbuh di keluarga monogamous bergelimang cinta.

Tapi saya menolak agama sebagai pandunya. Laku monogamous tidak berasal dari kekristenan. Mereka, karenanya, tidak berhak memerintah kita patuh terhadap ancaman-ancaman yang cuma melahirkan ketegangan. Gunakan sains sebagai petunjuk. Reguk semua informasi, timbang, silang, simpulkan, dan kamu akan mendapati panduan sejati.

Tapi bagaimana mempertahankan keluarga model seperti itu? Saya teringat pengalaman David Bowie ketika melahirkan duet teragung bersama Freddie Mercury dan Queen. 

Pada bulan Juli 1981, David Bowie pergi ke Montreux’s Mountain Studio untuk merekam lagu “Cool Cat” bersama Queen. Hasilnya berantakan. Mereka terkejut karena apa yang terhasilkan menyimpang jauh dari rancangan berminggu-minggu. Mereka relakan nomor itu batal dan gagal.

Sebelum bubar, mereka berjamsession di studio. Introduksi bass memancing Bowie dan Freddie mengisinya. Dalam hitungan jam persahutan di antara mereka pegari ke dalam komposisi baru yang kemudian sohor, melintas benua, melintas usia, melintas waktu, bertahan hingga kini di sanubari milyaran manusia: “Under Pressure”.

Media mewawancarai Bowie, menanyakan apa yang membuat duet itu sukses dan merasuk dunia. 

“Kekaguman saya pada Freddie,” jawab Bowie tegas. “Sesaat setelah kami bersepakat membatalkan “Cool Cat” saya sadar nomor itu dirancang dengan memperhitungkan kekaguman orang pada David dan Freddie, tidak memberi peluang kepada David untuk mengagumi Freddie dan sebaliknya. Maka, saat berjamsession, dan kami berdua dipancing untuk mengisi ruang-ruang yang disediakan, saya mencoba menghayati kebesaran Freddie lalu menjadi kagum karenanya. Kekaguman itu melahirkan rasa nyaman, kerelaan, dan kesediaan mengabdi tanpa prasangka. Rupanya kerelaan saya melahirkan rasa yang sama di benak Freddie. Di sana kami sebetulnya saling kagum, saling mengabdi, saling tersima.”

Can’t we give ourselves one more chance?
Why can’t we give love that one more chance?

One thought on “Pelakor Dan Poliamor-3

  1. Ini soal seks atau soal cinta? Soal hubungan pria-wanita atau soal institusi keluarga? Poliamrous dan penggemar orgy itu bedanya apa? Semuanya kok dibikin kayak satu nafas saja.

Leave a Reply to Radhar Tri Baskoro Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bitnami