Kala Agama Adalah Penjara 2

Muna Panggabean

Latihan terakhir sebelum konser digelar. Gabriella datang terlambat. Lagi-lagi ia dipukuli Conny yang pulang dalam keadaan mabuk. “Sebelum terlanjur parah, aku minta kalian relakan aku tidak jadi soli dalam komposisi baru ini.”

Arne murka. “Kamu harus perlihatkan kemampuanmu di depan Conny biar dia tahu betapa bernilainya kamu.”

Daniel meradang: “Gabriella akan melakukan ini untuk dirinya sendiri, bukan untuk suaminya.”  Dia menatap Arne dengan tajam dan kejam.

Seisi ruang latihan diliputi ketegangan. Holmfrid mengambil kursi dan meletakkannya di dekat Gabriella, meminta perempuan itu duduk menenangkan diri. Arne, seperti biasa, mengejek Holmfrid: tjockis-tjockis korv pojke, tjockis-tjockis Holmfrid –gendut-gendut anak sosis, gendut-gendut Holmfrid.

Entah kekuatan mana datang merasuk, Holmfrid membanting kursi di dekatnya. Dia terjang Arne hingga jatuh terjengkang. Mereka bergulat di lantai. Beberapa orang berusaha melerai. Seorang lelaki tua menarik Arne lalu mendorongnya ke sudut. Koordinator paduan suara itu tercengang bahkan terkesiap, tak menyangka Holmfrid sanggup mengamuk hebat.

Sambil menangis dan menggelepar, Holmfrid meratap: “35 tahun kamu ejek aku terus, sejak dari sekolah dasar, setiap hari, tak pernah berhenti. Masa sekolah adalah neraka panjang buatku. Lihatlah apa yang telah kamu perbuat padaku.”

Inger, istri pastor, datang mendekat, menawarkan bahunya. Holmfrid tersengal-sengal di sana. 

Gabriella memungut partitur komposisi solo yang tercampak atas kericuhan baru saja terjadi. Intro piano mengalun. Kamera berpindah ke Inger, perempuan yang tak menemukan surga di ranjang sucinya. Lalu ke Holmfrid yang bukan hanya tak memiliki surga, namun juga mengalami neraka sepanjang 35 tahun.

Lelaki tambun itu mengangkat kepala, menatap tajam ke Arne yang masih terkesiap namun sekarang berkaca-kaca. Sejenak kemudian Holmfrid mengarahkan pandangan ke Gabriella, perempuan yang mukim dalam neraka di rumahnya sendiri. Bibir Holmfrid masih bergetar seusai mengamuk tadi. 

Sekarang dia hentakkan kepala dan lalu tertawa-gelak dalam tangis. Gabriella balik menatap Holmfrid, mulai tersenyum, merekah, mengembang, sampai akhirnya perempuan itu merasakan sukacita gegap dalam dadanya.

Kamera beralih ke Tore yang tengah menengadah dengan dagu bergerak mencong, lalu ke Lena, perempuan yang surganya dibawa kabur dokter sialan, sebelum akhirnya kembali ke Holmfrid yang kini menatap Gabriella dengan kepala tegak. Dia tengah melangkah keluar dari neraka.

Gabriella mulai bernyanyi:
sekarang hidupku adalah milikku
sebuah masa singkat di bumi
kerinduanku telah membawaku ke sini
pada semua yang luput dan semua yang kuperoleh

Pada bait ini kamera masih menyapu secara bergantian wajah orang-orang yang baru saja menemukan surga. Gambar lalu pindah ke gedung konser yang telah terisi penuh. Gabriella berdiri di depan mikrofon, paduan suara berbaris di belakangnya, Daniel bahkan berada di antara mereka, ikut bernyanyi.

Gabriella mengenakan sack dress merah mengembang di bagian bawah dengan kalung hitam yang berukuran sedikit lebih panjang dari lingkar leher. Kepalanya bergeletar, dadanya kembang-kempis dengan cepat. Ada gelora sebentar lagi meledak.

ternyata itu jalan yang kupilih
percayaku jauh melampaui kata-kata
dan telah menunjukkan sedikit
dari surga yang tak pernah kutemukan
aku ingin merasa bahwa aku hidup
(di baris ini kepala Gabriella sedikit mendongak)

hari-hari akan ‘kujalani 
sebagaimana yang kuinginkan 
aku ingin merasa bahwa aku hidup
dengan tahu bahwa aku cukup kuat

Kamera menyapu wajah setiap anggota paduan suara yang sedang bergumam dengan aaah, uuuh, kadang hmmh. Itu wajah orang-orang merdeka, mengalami sukacita sempurna. Gabriella melanjutkan nada: 

aku tak pernah kehilangan diriku 
aku hanya pernah membiarkannya tidur 
mungkin saat itu aku tak punya pilihan
(di detik ini Gabriella mengarahkan pandangan ke Conny, suaminya, yang berdiri di sudut kiri depan, untuk menegaskan baris syair yang segera dilantunkannya:)
selain keinginan untuk sintas

Lalu kepada segenap penonton yang terdiam, terlongong, tersihir, tersima, Gabriella melantakkan deklarasi kemerdekaannya:

apa yang kuinginkan adalah
berbahagia sebagaimana adaku,
untuk kokoh dan merdeka,
untuk melihat hari bangkit dari malam
 dan hidup adalah milikku

surga yang semula kukira di sana
kamera dalam posisi medium shot mengarah ke pastor Stig
ternyata kutemukan di tempat lain.

Paduan suara menggumam panjang. Gabriella bersiap mengentakkan baris terakhir, puncak dari tekad barunya, dengan penuh gelora, meledak: 

aku ingin merasakan bahwa telah kuhidupi hidupku.

Tepat di bagian ini saya tersedak. Andai beragama hanya sesederhana ini: merasakan dengan pasti bahwa telah kuhidupi hidupku, bukan malah menghidupi doktrin dan syariat. Ah.

Paduan suara itu ditawari kesempatan mengikuti kompetisi di Vienna, Austria, dalam lomba bertajuk ‘let the people sing’. Mereka berdebat tentang apa gunanya ikut kompetisi.

Daniel kemudian setuju. Ia mengebaskan tangan ke atas sambil berteriak: “akan kita perdengarkan sebuah musik yang belum pernah mereka dengar, vibrasi yang membuka semua hati.”

Pastor Stig menemukan beberapa foto istrinya berpose dengan sang konduktor dalam ekspresi penuh rona. Dihantam cemburu, dia datangi Daniel dan menyerahkan surat berisi pemberhentian konduktor itu dari jabatan cantor di gereja.

Seluruh anggota paduan suara membangkang. Mereka datang ke rumah Daniel dan berlatih. Inger bahkan memutuskan minggat dan tinggal di sana. Tak hanya itu, Gabriella hengkang bersama 2 anaknya, ditampung di rumah salah seorang anggota setelah Conny pun mabuk berat oleh cemburu dan menghajar Gabriella hingga penuh luka.

Gereja sepi kehilangan jemaat. Tak lebih dari 10 orang hadir dalam ibadah minggu. Stig membatalkan kebaktian. Dia bingung, putus asa, dan sekarang berkawan botol-botol minuman keras. Dia telpon Daniel, memintanya datang ke rumah.

Stig mengangkat senjata di hadapan Daniel dan menembakkan peluru ke atas. 

“Kamu pasti bingung, bagaimana mungkin seorang pastor hendak membunuh dirinya sendiri.” Dia meratap dengan suara parau, “mengapa kamu datang ke desa ini? Apa yang bikin kamu datang?” Dia masukkan 2 anak peluru ke dalam senapan dan mengokangnya. “Satu untukmu dan satu untukku,” ucapnya dengan seringai kekalahan. 

Serangan panik datang melanda. Mata Stig terbelalak, sebentar kemudian tubuhnya merosot dari kursi. Daniel menangkapnya sembari berkata, “sudahlah.” 

Daniel dan Lena bersepeda menuju danau. Di sana Lena menanggalkan semua pakaian, bugil di hadapan Daniel. Sesaat sebelum nyemplung, dia menoleh ke belakang, berhadap-hadapan dengan Daniel, lalu berkata:

“dulu, aku jatuh cinta kepada seorang dokter. Kami memutuskan tinggal bersama untuk waktu yang cukup lama sebelum akhirnya aku tahu dia sudah beristri dan punya anak. Sepekan kemudian dia menghilang, tak tentu rimba. Itu menyakitkan. Aku minta kamu tak lakukan itu padaku.” 

Daniel terkejut. Cinta adalah barang terlarang buat jantungnya. Persetubuhan hanya akan menuntun dia menerima serangan kedua. Dia berbalik, meraih sepeda, melarikannya dengan bergegas.

Di hari berikut, dalam kemarahan yang tak lagi bisa dikendalikan, Conny mendatangi Daniel di danau, memukuli lelaki itu hingga babak belur. Daniel tahu, cecunguk inilah dulu semasa kecil yang kerap menghajar dia saban pulang sekolah.

Seluruh anggota paduan suara melaporkan penganiayaan tersebut ke kantor polisi. Conny harus mendekam di penjara. 

Hari keberangkatan ke Vienna tiba. Pastor Stig datang mengantar tas berisi beberapa helai pakaian Inger. “Bisakah suatu saat kita….?”

“Aku tak tahu,” jawab inger.

Rombongan tiba di Vienna, ibukota kerajaan musik. Daniel disambut meriah orang-orang yang memujanya sewaktu masih bergiat sebagai konduktor orkestra. Lena terganggu. Dia merasa harus segera  mengekspresikan hasratnya secara terbuka. Dia datangi Daniel di kamar hotel. “Semua ini sia-sia,” ucapnya lirih. Daniel menjemba bahu Lena sembari secara didaktif mengutarakan gelora asmara. Mereka berpelukan, berciuman. Daniel berkeputusan mengalami cinta. Mereka arungi malam dalam gelora.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bitnami