Berat Sebelah

Ini pilpres paling membosankan, pertarungan antara 2 pasangan berat sebelah. Pasangan 01: setumpuk data pencapaian bersanding penguasaan massa Islam terbesar. Pasangan 02: serenceng catatan kelam di masa lalu bersanding kegenitan di atas dusta dan ketololan.

Pertarungan bakal seru andai Sandiaga berpasangan dengan Agus Harymurti. Meski juga peluang menang tak besar, setidaknya mereka berkesempatan menyodorkan antigone kepada pasangan Jokowi-Maruf: yang muda versus senior.

Sandiaga tentu akan lebih leluasa bermanuver di kalangan milenial dan para Ibu. Bersanding dengan Agus Harymurti, kemudaan yang mereka tawarkan betul-betul telak dan bulat. Apa daya Prabowo masih memegang kartu. Meski tak punya modal, barisan Gerindra mendorongnya maju dengan setengah memaksa.

Ketimpangan itulah yang kita lihat hari ini. Alih-alih mengejar ketinggalan, mereka melakukan blunder melalui hoax Ratna Sarumpaet. Para polster bersuara tegas menyodorkan sigi terkini: selisih elektabilitas membesar. Sandi lintang-pukang berupaya sekuat tenaga: menjual saham di Adaro agar tersedia bekal logistik, masuk dari satu pasar ke pasar lain bercericit ganjil, menyodorkan foto titit gembul agar para emak berteriak histeris.

Di permukaan dia terlihat berhasil. Sambutan padanya membesar dari waktu ke waktu. Tapi peta elektabilitas tak memperlihatkan kemajuan. Sandi abai: dia cuma terlihat sebagai pelawak, entertainer, teman ngerumpi, bagi khalayak yang didatanginya. Massa pasti riuh menyambut Jojon atau Raditya Dika. Tapi menaruh suara bagi orang-orang seperti itu sebagai Presiden, itu perkara lain.

Jokowi-Ma’ruf sudah berada di kisaran 60%. Peluang untuk menuju ke 70% terbuka lebar, tak elok bagi Prabosan. Kalah ya kalah. Kalau telak, itu menghanguskan harga diri.

Maka saya sibuk menduga-duga, kiat apa lagi yang bakal mereka tawarkan? Para pendukungnya kian memperlihatkan ketololan. Itu disengaja karena mereka bergerak di kawasan orang-orang dengan mata tertutup. Sementara dana kampanye tak kunjung muncul. Kalau begini terus, lama-lama Sandiaga bisa jual diri.

Cara termurah adalah membakar revolusi. Setidaknya hoax Ratna dan pembakaran bendera HTI berbisik ke arah sana. Tapi harus ada pra-kondisi sebagai pendahulu. Kalau tidak, sukar untuk mengacungkan agenda yang mudah dipahami orang banyak.

Rupiah sedang berada di kisaran Rp. 15.200 per 1 USD. Andai angkanya naik ke Rp. 16.000, apalagi Rp. 17.000, itu cukup untuk menyiram bensin ke atasnya. Api bakal serentak menyala lebat di berbagai daerah. Ke sanakah situasi internasional bergerak?

Rasanya tidak. FED meredam diri. Data perekonomian USA dua pekan lalu menyiratkan pelambatan mulai terjadi akibat suku bunga yang dikerek naik. Sementara persaingan ekonomi di berbagai kawasan kian ketat. Sukar mencari bisnis dengan yield tinggi untuk mengimbangi bunga bank.

Kalau FED menurunkan suku bunga atau setidaknya menahan diri untuk tidak bergerak naik, mata uang Asia menguat, termasuk Indonesia. Dan kalau kebijakan B20 menuai hasil di bulan Desember, Rupiah menguat ke kisaran Rp. 14,700 – Rp 15,000. Api tak jadi menyala.

Satu-satunya peluang tersisa adalah berharap sebuah kecelakaan muncul di depan mata. Itu yang dipanen Anies-Sandi dari kecerobohan Ahok dulu. Pembakaran bendera  HTI dua pekan lalu harusnya bisa dimanfaatkan. Sayang sekali, Polri dan NU bergerak cepat memadamkan bara. Jusuf Kala bahkan memanggil banyak ormas Islam bertemu di rumahnya beserta Kapolri dan Panglima TNI. Semua orang keluar rumah usai pertemuan dengan saling peluk.

Ada beberapa momen di beberapa bulan ke depan yang berpotensi untuk dimanfaatkan Prabosan. Bebasnya Ahok di Januari atau Februari, dan peringatan Supersemar. Di titik ini barisan 01 harus  menahan diri agar kayu tidak bergesek. Sambutan berlebih atas bebasnya Ahok bisa dijadikan dasar bagi penggerakan masa. Apalagi kalau di pekan itu Prabowo berhasil membawa Rizieq pulang dari perantauan.

Demikian juga dengan suara-suara miring terhadap kenangan akan Supersemar. Meski tak cukup berarti, penggorengan maksima bisa membuatnya menyala lebat. Apalagi dengan memanfaatkan pensiunan tentara.

Kepada pendukung Jokowi: tahan diri. Biarkan data-data pencapaian pemerintah yang bicara. Kabarkan dengan rapih tanpa perlu bersorak lebih. Apalagi kalau kamu bisa menjelaskannya sambil berkesenian.

Ada lagi? Cyberwar dengan mengandalkan otak Rusia? Basi. Bulan November Jokowi akan melakukan pembicaraan empat mata dengan Putin di sela-sela Rusia-ASEAN summit di Singapore. Apalagi sebuah kekuatan di belahan sana sudah menyatakan siap mendukung cybertroop 01.

Pertarungan, saya rasa, sedang bergerak ke arah anti-klimaks.

Pertarungan, saya rasa, sedang bergerak ke arah anti-klimaks.

7 thoughts on “Berat Sebelah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bitnami