Bukan Kamu, Tuhan

“Saya tidak mengerti Tuhan. Dia semau-maunya mengambil Kelly dari pelukan saya,” kata Fransisca, seorang Ibu di New York berusia lima puluhan, yang sehari-hari mengambil double job dengan menjadi janitor di sebuah hotel pada pagi hari, dan menjadi buruh laundry pada malam hari.

“30 bulan lalu Kelly dipecat dari pekerjaan karena tuduhan penggelapan uang. Dengan menangis pada saya dia akui perbuatannya. Uang tersebut digunakan untuk membiayai pelayanan gereja. Kantor Polisi mengupayakan jalan damai. Kelly harus mengembalikan uang yang digelapkannya agar kasus ini tidak masuk ke pengadilan.

Saya mendamping dia selama upaya damai itu diproses, lalu mengajukan diri sebagai penanggungjawab melalui permohonan mencicil besaran dana tersebut selama 2 tahun. Tak cuma itu, saya minta Kelly bersama Joice, anaknya, tinggal di rumah saya paisam dia mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Tapi siapa mau memberi pekerjaan kepada seorang pencuri? Selama 2 tahun itu saya membanting tulang. Tak hanya dua pekerjaan, saya juga menerima pekerjaan apa pun selama hari Sabtu dan Minggu. Yang penting adalah melunasi apa yang sudah saja janjikan: $32,000 dalam 24 bulan.

Saya cuma tidur 5 jam dalam sehari karena 2 jam saya gunakan untuk merawat Joice yang baru berusia 4 tahun. Kelly? Dia sibuk mengikuti kebaktian di sana-sini, berdoa di kamarnya saban hari, memohon ampun, meminta pertolongan Tuhan, dan yakin bahwa itu cara terbaik untuk menebus dosanya.

Tubuh saya susut 12oz dalam 2 tahun. Semua orang tahu itu dan merasa prihatin. Kelly tidak. Sedikit pun dia tidak berupaya meringankan beban saya. Berhubungan dengan Tuhan menurut dia adalah jalan paling pantas untuk membuktikan pada saya bahwa dia Ibu yang baik, puteri yang suci, dan perempuan terpantas untuk menerima kebaikan.

Pekan kemarin semua beban tersebut lepas. Saya berhasil melunasi utang Kelly, kewajiban saya. Perusahaan tempat Kelly bekerja menerbitkan surat yang membebaskan Kelly dari semua tuntutan dan menganggap kasus tersebut tidak pernah ada. Saya pulang ke rumah dan memperlihatkannya pada Kelly.  Saya mendamba sangat dipeluk olehnya, menerima kalimat pujian dan syukur yang memulihkan rasa penat dan berat selama 2 tahun. Tapi bukan itu yang saya terima. Anda tahu apa yang dia lakukan?

Setelah membaca Surat Pelepasan, kalimat pertama yang meluncur dari mulutnya adalah ucapan terima kasih kepada Tuhan, memuji Allah dengan suara keras, berseru “Hallelujah” dengan menghentakkan kaki. Dia masuk ke kamar dan malamnya berpesan pada saya bahwa selama tiga hari ke depan dia akan menjalani Puasa Daud.

Ya, dia berterimakasih pada saya. Tapi hanya 2 kalimat. Selebihnya adalah untuk Tuhan.

Kepingin rasanya saya mengamuk. Jangan salah kira. Saya bergereja tiap minggu, meski tidak satu gereja dengan Kelly. Saya lebih senang beribadah di First Presbytarian Church di 12thStreet. Ruangnya lapang. Organisnya jempolan. Lagu-lagunya menenangkan hati perempuan tua kesepian seperti saya.

Sayalah yang berkerja siang-malam, banting tulang, mengurangi jam tidur, agar dunia Kelly kembali berputar. Saya yang membawa Joice ke taman bermain tiap Sabtu petang dan Minggu siang, makan hot dog dan es lolypop. Dengan cara seperti itu saya mengalami Tuhan. Kadang saat menjenguk Kelly di kamarnya ketika dia tidur, saya merasa diri sebagai Tuhan yang merawat dia.

Tapi mungkin saya salah karena tidak mengabdikan tugas Tuhan yang lain: mendidik Kelly. Saya cenderung hanya melindungi dia, memberinya pertumbuhan, tapi gagal melepas ganjaran. Saya lemah ketika berhadapan dengan tangisannya.

Sekarang saya di sini, disapa Anda, diajak ngobrol oleh Tuhan, dalam jam istirahat kerja. Selepas genap membayar hutang Kelly, saya ingin menikmati sedikit kemewahan dengan makan di rumah steak ini. Saya tidak tahu apa yang membuat Anda menyapa saya, pindah ke meja ini, dan berbincang. Ini kesempatan pertama bagi saya untuk bisa bercerita.

Saya tidak dapat kredit apa-apa dari Kelly untuk pengabdian panjang tersebut. Baginya, semua adalah tentang Tuhan. Buat saya, Tuhan adalah kepala polisi di precint West 54 street. Dia yang menata-ulang hidup Kelly. Tuhan juga kepala perusahaan tempat Kelly dulu bekerja. Dia memberi ganjaran sekaligus didikan, yang sayangnya tidak dimanfaatkan Kelly.

Kadang saya tersenyum pahit pada Tuhan. Saya bilang, bukan Kau yang bekerja jadi janitor berteman bau busuk kotoran penghuni kamar hotel, bukan Kau yang mencuci kain seprai berhias tumpahan sperma lelaki jalang, bukan Kau yang membersihkan toilet, bukan Kau yang menahan lapar saat pulang kerja malam tapi tak menggunakan uangmu untuk singgah barang 20 menit di Denis, bukan tubuhMu yang meriang tapi berkerashati menembus salju untuk bekerja shift malam, bukan Kau yang menjalani semua derita itu, Tuhan. Tapi kenapa Kau yang mendapat kredit dari puteri tercintaku.

Aku terasing dariMu.”

Senja baru saja usai. Fall yang datang terlambat berkirim dingin. Saya melangkah menyusuri jalan balik ke hotel. Temaram menemani. Cinta merabai.

Terima kasih telah bercerita padaku, Tuhan.

4 thoughts on “Bukan Kamu, Tuhan

  1. tidak sampai mengguncang imanku, tapi membuatku berpikir ttg Allah. saya memiliki perhatian khusus untuk anak anak yang di kolong jembatan, dan akhirnya bisa mendapatkan akses untuk mengajar mereka setiap sabtu. apakah Allah yg berdiam dalamku? berharap bisa lebih banyak memberi dampak kepada anak anak tsb..sehingga mereka bisa berpikir bagaimana keluar dari lingkaran jahanam yang menjerat mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bitnami